Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Tanya Jawab seputar Kundalini dng Raja Kudalini
Tue May 15, 2012 12:26 pm by henry_gautama

» KUNDALINI SHAKTI part 3
Sun Mar 25, 2012 4:42 pm by henry_gautama

» KUNDALINI SHAKTI part 2.
Sun Mar 25, 2012 4:39 pm by henry_gautama

» Kundalini Part 1 By TRIMURTI YOGA KUNDALINI
Sat Mar 24, 2012 9:24 pm by henry_gautama

» Kundalini-not Only in Hinduism
Sat Mar 24, 2012 8:52 pm by henry_gautama

» Pandangan Tantrayana ttg Pembangkitan Kundalini:
Fri Mar 23, 2012 9:52 pm by henry_gautama

» Beasiswa S1
Tue Mar 20, 2012 4:39 pm by henry_gautama

» Lowongan MANAGER OPERASIONAL
Tue Mar 20, 2012 4:37 pm by henry_gautama

» Mengenal lebih dekat Kundalini
Tue Mar 20, 2012 3:16 pm by henry_gautama

Connect Facebook
Samudera Hati (TYK)

Samudera Hati (TYK)

Gallery


December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Calendar Calendar

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Poll
Counter
Anda pengunjung yang ke :
www.samuderahati.co.cc

Statistics
Total 68 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah Enung Martina

Total 428 kiriman artikel dari user in 160 subjects

:: Citta Kita adalah Agama Kita :: - Bag. 3

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

:: Citta Kita adalah Agama Kita :: - Bag. 3

Post  semesta on Thu Jul 23, 2009 2:36 pm

... sambungan

Kita memiliki kecerdasan; kita tahu bahwa obyek-obyek materi saja tidak dapat membawa kebahagiaan, namun kita tidak harus memulai perjalanan religius secara emosional untuk memeriksa citta kita sendiri. Sebagian orang beranggapan bahwa analisa diri seperti ini adalah sesuatu yang bersifat spiritual atau religius. Tidaklah perlu mengelompokkan diri kita sebagai pengikut agama tertentu, pengikut filsafat tertentu atau menempatkan diri kita dalam beberapa kategori agama tertentu. Jika kita ingin bahagia, kita harus memeriksa cara kita menjalani hidup. Citta kita adalah agama kita.

Ketika mengamati citta kita, jangan merasionalisasi atau memaksa. Bersikaplah rileks. Jangan merasa kesal ketika masalah muncul. Cukup disadari saja dan ketahuilah asalnya. Ketahuilah penyebab utamanya. Perkenalkan masalah itu kepada diri kita sendiri: “Masalahnya adalah seperti ini. Bagaimana hal ini bisa menjadi masalah? Pikiran seperti apa yang membuatnya menjadi masalah? Pikiran seperti apa yang merasakan bahwa itu adalah suatu masalah? Jika kita mengamati secara seksama, masalah itu akan lenyap secara otomatis. Begitu sederhana bukan? Kita tidak perlu mempercayai sesuatu. Jangan percaya pada apapun begitu saja!

Demikian juga, kita tidak dapat mengatakan, “Saya tidak percaya saya memiliki citta.” Kita tidak dapat menolak citta kita.” Kita dapat mengatakan, “Saya menolak sesuatu yang bersifat ke Timur an” – dan saya setuju. Namun apakah kita dapat menolak diri kita sendiri? Apakah kita dapat menyangkal kepala kita atau hidung kita? Kita tidak dapat menyangkal citta kita. Oleh karena itu, perlakukanlah diri sendiri secara bijak dan berusahalah menemukan penyebab kebahagiaan sejati.

Ketika masih kanak-kanak, kita menyukai dan menginginkan es krim, coklat, dan kue, dan kita berpikir, “Nanti ketika saya dewasa, saya akan memiliki semua es krim, coklat dan kue yang saya inginkan dan saya akan bahagia.” Sekarang kita mempunyai es krim, coklat, dan kue sebanyak yang kita inginkan namun kita merasa bosan. Kita memutuskan bahwa – karena hal-hal tersebut tidak lagi membuat kita bahagia, kita lalu berpikir dengan memiliki mobil, rumah, televise, seorang suami atau istri maka kita akan bahagia. Sekarang kita telah memiliki semuanya namun mobil menjadi masalah, rumah menjadi masalah, suami atau istri menjadi masalah, anak-anak juga menjadi masalah. Kemudian kita menyadari, “Oh, ini bukan kebahagiaan.”

Lalu apa itu kebahagiaan? Periksalah semuanya secara mental dan amatilah; ini sangat penting. Periksalah kehidupan kita dari masa kanak-kanak hingga sekarang. Ini adalah meditasi analitis (Inggris: analytical meditation): “Waktu itu pikiran saya seperti itu, sekarang pikiran saya seperti ini. Pikiran telah berubah begini, begitu.” Pikiran kita telah sering berubah, namun apakah kita sudah mencapai kesimpulan apa yang benar-benar membuat kita bahagia? Menurut saya, kita telah tersesat. Kita tahu jalan di sekitar kota, bagaimana pulang ke rumah, dan di mana tempat membeli coklat, namun kita masih tersesat. Kita tidak dapat menemukan tujuan kita. Cobalah amati dengan jujur apakah memang demikian.

Guru Buddha mengatakan bahwa yang perlu kita ketahui adalah apa diri kita, bagaimana keberadaan kita. Kita tidak perlu percaya pada apa pun begitu saja. Cukup pahami saja citta kita, cara kerja citta kita, bagaimana keterikatan (Sanskerta: raga / lobha; Inggris: attachment) dan keinginan (Inggris: desire) muncul, bagaimana kesalahpengertian (Sanskerta: avidya) muncul. Memahami sifat keberadaan dari semua hal itu – sudah cukup untuk membawa kebahagiaan dan kedamaian. Dengan demikian, hidup kita dapat sepenuhnya berubah; semuanya dapat berubah total. Apa yang pernah kita anggap sebagai sesuatu yang mengerikan dapat berubah menjadi sesuatu yang indah.

Jika saya mngatakan bahwa hidup anda
ditujukan untuk coklat dan es krim, anda mungkin menganggap saya gila. Pikiran sombong anda akan menolak “Tidak! Tidak!” Namun lihatlah lebih dalam tujuan hidup kita. Mengapa kita ada disini? Supaya kita disukai? Supaya menjadi terkenal? Untuk mengumpulkan harta kekayaan? Supaya orang lain tertarik? Saya tidak melebih-lebihkan – cobalah anda amati sendiri dan anda akan menyadarinya.

Dengan memeriksa secara seksama, kita dapat menyadari bahwa mengarahkan seluruh hidup kita untuk mencari kebahagiaan melalui coklat dan es krim, itu sepenuhnya membuat makna kelahiran sebagai manusia menjadi hilang. Bukankah tujuan hidup kita seharusnya lebih bermakna?

Saya tidak mencoba menentukan arah hidup anda, namun cobalah anda cek. Lebih baik memiliki kehidupan yang utuh daripada hidup dalam gangguan mental. Hidup yang berantakan tidaklah berharga atau bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Demi apa kita hidup – coklat? Steak? Mungkin kita berpikir, “Tentu saja saya hidup bukan untuk makan. Saya adalah orang yang berpendidikan.” Namun pendidikan juga berasal dari citta; tanpa citta, apa itu pendidikan, apa itu filsafat? Filsafat hanyalah kreasi dari citta seseorang dimana beberapa pemikiran terangkai dengan cara tertentu. Tanpa citta; tidak ada filsafat, doktrin ataupun mata kuliah universitas. Semuanya adalah hasil kreasi dari citta.

Bagaimana caranya mengamati citta? Yaitu cukup mengamati bagaimana citta mengalami atau menginterpretasikan obyek apapun yang muncul. Amatilah perasaan-perasaan yang muncul, baik itu menyenangkan maupun tidak menyenangkan, kemudian amatilah, “Ketika saya memiliki pandangan seperti itu, perasaan begini muncul, emosi begitu timbul; saya membeda-bedakannya seperti itu. Mengapa?” Inilah caranya mengamati citta kita. Itu saja, sangat sederhana.

Bila kita mengamati citta kita sendiri secara benar, kita akan berhenti menyalahkan orang lain atas masalah kita. Kita akan menyadari bahwa tindakan-tindakan keliru berasal dari pikiran yang dikuasai klesha (gejolak mental yang mengganggu ketenangan dan kedamaian pikiran). Bila kita disibukkan dengan obyek-obyek eksternal, kita menyalahkan obyek-obyek itu dan menyalahkan orang lain atas masalah kita. Memproyeksikan pandangan yang keliru pada fenomena eksternal membuat kita menderita. Begitu kita mulai menyadari cara pandang yang keliru tersebut, kita mulai menyadari sifat keberadaan citta kita sendiri dan mengakhiri masalah-masalah kita untuk selamanya.

Apakah semua ini merupakan hal yang baru bagi anda? Saya kira tidak demikian. Kapanpun kita akan melakukan sesuatu, pertama-tama kita mengamatinya, kemudian kita baru membuat keputusan. Saya tidak menyarankan sesuatu yang baru di sini – kita semua sudah biasa melakukannya – hanya saja apa yang kita lakukan belumlah cukup. Kita harus lebih banyak mengamati. Ini bukan berarti duduk sendirian di sudut sambil mengkontemplasikan tentang pusar kita. Kita dapat mengamati citta kita setiap saat, bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain atau bekerja. Apakah anda menganggap bahwa memeriksa citta hanya urusan orang Timur saja? Janganlah berpikir demikian.

Sadarilah bahwa sifat keberadaan citta berbeda dengan daging atau tulang di tubuh kita. Citta kita seperti sebuah cermin, memantulkan semuanya tanpa memilah-milah. Jika kita mempunyai prajna (intelek), kita dapat mengendalikan jenis proteksi yang masuk dalam cermin citta kita. Jika kita sepenuhnya mengabaikan apa yang terjadi dalam citta kita, maka citta akan memproyeksikan hal-hal negatif apapun yang dialaminya – hal-hal yang akan membuat kita sakit secara psikologis. Prajna kita seharusnya membuat kita mampu membedakan proyeksi yang bermanfaat dan proyeksi yang membawa masalah psikologis. Pada akhirnya, begitu kita menyadari sifat keberadaan sesungguhnya dari subyek dan obyek, maka semua masalah akan lenyap.

Sebagian orang menganggap diri mereka adalah orang yang religius. Pertanyaannya adalah apa itu religius?

Jika kita tidak memeriksa sifat keberadaan diri sendiri, tidak mempunyai prajna, bagaimana kita dapat disebut religius? – “Saya seorang Buddhis, Yahudi, atau apapun” – itu sama sekali tidak membantu kita sendiri mamupun orang lain. Agar kita benar-benar dapat membantu mahkluk lain, kita harus mengembangkan prajna.

Masalah-masalah manusia yang terbesar bersifat psikologis bukanlah material. Sejak lahir sampai meninggal, orang berada di bawah kendali penderitaan mental secara terus-menerus. Sebagian orang tidak pernah mengamati citta mereka ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar, namun begitu ada sesuatu yang salah – misalnya mengalami kecelakaan atau pengalaman buruk lainnya, mereka langsung berucap, “Tuhan, tolonglah saya” Mereka menyebut diri mereka religius, namun ini tidak masuk akal. Seorang praktisi yang serius akan terus mengingat Tuhan atau menyadari sifat keberadaan dirinya, baik ketika sedang berbahagia maupun menderita.

Kita tidak realistis atau bahkan sama sekali tidak religius jika lupa diri ketika kita merasa senang, ketika kita dikelilingi dengan coklat dan sibuk dengan kesenangan duniawi; dan hanya berpaling kepada Tuhan ketika sesuatu yang mengerikan terjadi. Sebenarnya agama apapun yang ada di dunia ini dan interpretasinya terhadap Tuhan, Buddha dan sebagainya hanyalah kata-kata dan pikiran. Hanya dua hal ini saja. Maka, kata-kata tidak begitu berarti. Yang harus kita sadari adalah bahwa segala sesuatu, baik atau buruk, setiap filsafat dan doktrin itu berasal dari pikiran. Pikiran itu sangat dahsyat kekuatannya, oleh karena itu membutuhkan bimbingan yang jelas. Sebuah pesawat jet yang berkekuatan besar membutuhkan seorang pilot yang mahir. Pilot dari pikiran kita adalah prajna yang mengerti sifat keberadaan kita. Dengan demikian, kita dapat mengarahkan energi mental yang berdaya kuat sehingga bermanfaat dan bukan membiarkannya berkeliaran secara tak terkendali seperti gajah yang kalap, menghancurkan diri kita sendiri maupun orang lain.

[Sumber: Setenang Dasar Lautan – Lama Yeshe]

semesta

Jumlah posting : 54
Points : 96
Reputation : 0
Join date : 29.06.09

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik